h1

TIPOLOGI ORANG BANTEN

Oleh: Fitron Nur Ikhsan

Peringatan Hari Ulang Tahun Provinsi Banten 4 Oktober 2006 kali ini tentu sangat istimewa, tepat saat Banten dirayakan ulang tahunnya sebagai provinsi, suana politik tengah hangat-hangatnya menjelang pilkada. Jika tidak ada aral melintang 26 November 2006 nahkoda baru kapal bernama Provinsi Banten ini akan dipilih. Setelah enam tahun, saatnya kini menata ulang masa depan, dan mengevaluasi masa lalu.

Ada yang wanti-wanti jangan lagi kita mengalami kecelakaan sejarah, salah memilih pemimpin dan dipimpin oleh pemimpin yang salah pilih. Bahkan LPPM Latansa Mashiro yang pertama kali menggunakan wantiwanti itu dalam acara refleksi pergantian tahun baru Januari 2006 lalu, membubuhinya dengan kalimat ekstream ”Pastikan bahwa orang Banten bukan keledai”, Meskipun Selamat Raharjo aktor ternama yang menajadi key note speaker pada acara tersebut merubah temanya secara radikal dengan statement sebaliknya ”Banten tidak pernah kecelakaan sejarah dan warga Banten adalah keledai”. Memang terlihat berbeda, akan tetapi kedua kalimat tersebut dijiwai semangat perubahan yang tetap saja sama. Slamet Rahardjo yang ternyata orok Menes, begitu berharap. hebat, darah bantennya masih mengglorakan kata demi kata dalam sambutannya. Betapa ia menginginkan Banten menjadi lebih baik.

Kecelakaan sejarah dimasudkan LPPM Latansa Mashiroh adalah gambaran pada satu keadaan permulaan yang jelek, untuk pertama kali Banten memiliki pemimpin, baik legislatif maupun eksekutif, ternyata keduanya bersekongkol dan akhirnya korupsi menyudahi cerita buruk itu. Lalu apologi pastikan kita bukan keledai adalah sebuah pembelaaan bahwa orang Banten tak pernah merasa ikut memilih mereka, sebab prosesnya berlangsung amat khusus.

Namun, Slamet Rahardjo justru mencatatnya bukan sebagai kecelakaan sejarah karena sejarah tak pernah celaka, yang pasti kita adalah keledai, karena kita memang tak berdaya, begitu kata Slamet Rahardjo. Kita telah memberikan cek kosong pada mereka dengan ke-tsiqahan amat tinggi untuk memimpin kita semua (baca: Rakyat Banten) Memang benar berefleksi sebenarnya tak mengenal waktu, bahkan Rasulullah saw selalu menganjurkan sepanjang malam dalam qiamul lail kita untuk merenungi kehidupan. Tapi biarlah jika tak sempat, saat ini kita berefleksi dan khusus tentang bumi yang kita pijak ini, Provinsi Banten.

Amat indah jargon-jargon politik yang dulu oleh para politisi, akademisi dan mahasiswa dengungkan dengan merdunya, sebagai password agar pintu hati pemerintah pusat terbuka dan meniscayakan bumi para sulatan ini mandiri menjadi provinsi. Kalaimat indah itu adalah kesejahteraan dan keadilan. Kita tak menyangka jika akhirnya para politisi akan berhadap-hadapan dengan mahasiswa saling menghujat setelah semuanya tercapai.

Meskipun akademisi dan mahasiswa pada akhirnya membisu ditengah keramaian karena wilayah kekuasaan amat menggiurkan. Pengamatan penulis memang tidak didasarkan pada sistematika ilmiyah. Akan tetapi lebih pada pengamatan subyektif. Pada tahap awal rasanya kita tepat sebut tahap perjuangan. Pada masa itu mulai muncul para pejuang, saya menghitungnya sejak tahun 60-an hingga 2000. diakhir babak kita menobatkan almarhum Uwes Qorni dan kawan-kawan sebagai Pejuang Benten. Sebagai metafor muncullah lembaga seperti KPPB, Pokja, dan akhirnya Bakor PPB. Tak ketinggalan dikalangan mahasisiwa tercatatlah FMPTB dan di Jawa Barat digawangi oleh Keluarga Mahasiswa Tirtayasa (Kamayasa), ”maaf jika ada yang tidak disebut” yang saya maksudkan mereka itulah para pejuang itu. Harus kita akui semua orang Banten juga pejuang, bahkan mungkin tak tercatat satu nama yang urung ikut demonstrasi karena diperjalanan terjatuh dari truck yang ia tumpangi. Bagai keran jebol, secara formal akhirnya Banten menjadi Provinsi terpisah dari Jawa Barat, ditetapkan melalaui undang-ungang nomo 23 tahun 2000.

Fase kedua akhirnya tercipta sebuah kondisi para pejuang menjadi hanya sebagai pengawal. Karena segelintir orang saja yang bisa memegang kendalai sebagia pemain diranah kekuasaan. Segera setelah Banten ditetepkan sebai provinsi, sejumlah langkah pun dilakukan. Pada awal Maret 2000 dibentuk Panitia Pengisian Keangotaaan (PPK) DPRD Banten. Selang beberapa waktu terbentuklah DPRD dengan ketua Dharmono K Lawi dari Fraksi PDI Perjuangan. Agenda politik besar selanjutnya dan merupakan tugas pertama bagi DPRD Provinsi Banten adalah melaksanankan pemilihan gubernur dan wakil gubernur masa bakti 2001-2006. dari proses demokrasi tersebut terpilihlah Djoko Munandar sebagai gubernur dan Ratu Atut Chosyiah sebagai wakilnya, manuver koalisi Partai Golkar dan PPP. Dalam perjalanan selanjutnya muncullah kelompok Hilton yang pernah menolak legistimasi Djoko-Atut.

Betapa dinamisnya politik waktu itu. Lalu BEM se-Banten sebagai elemen mahasiswa juga pernah kecewa karena gagal mendesakan pemilihan gubernur dengan cara voting terbuka. Kita juga mengenal Majelis Musyawarah Masyarakat Banten (M3B) yang secara radikal vis-a-vis kekuasan waktu itu. M3B dikenal rajin mengiterupsi kepemimpinan Djoko-Atut dari cengkraman shadow state bernama gubernur jendral. Saya catat perjalanan pada rentang waktu saat itu sebagai fase pengawalan. Rupanya babak demi babak ada akhirnya. Banten akhirnya masuk pada satu kenyataan semua orang terjun menjadi pemain, baik itu kelompok Hilton, M3B, mahasiswa dan Incumbent tentunya.
Ini adalah fase ketiga yang amat menentukan. Semuanya telah menjadi pemain, kombinasi kekuasaan legislatif yang dulu giat mengawal roda pemerintahan pun tak ketinggalan, sekedar mengingatkan romantisme betapa gagahnya Fraksi Amanat Bintang Keadilan (F ABK) melancarkan kritik yang selalu dialamatkan pada rezim Djoko – Atut. Namun ketiga partai baru yang terbilang kritis itu sekarang telah berhadap-hadapan dalam sebuah kompetisi politik. Partai Bulan Bintang mengusung Atut, Partai Amanat Nasional menjagokan Tryana dan Partai Keadilan Sekarang PKS mencalonkan Zulkieflimansyah.

Memang benar pameo bahwa dalam politik tak ada teman dan musuh abadi yang ada adalah kepentingan abadi. Untungnya saat semua telah menjadi pemain wilayah otoritas yang paling menentukan ada ditangan rakyat, sehingga mahasiswa tidak perlu lagi memboikot Pilkada dengan tuntutan voting terbuka, dan tak lagi akan ada kelompok Hilton yang menolak hasilnya. Asumsi saya justru antar pemainlah yang akan saling menjegal. Tiga fase yang berkembang membentuk tipologi gerakan Masyarakat Banten, fase pejuang, pengawalan dan pemain. Yang entah disengaja atau tidak semua telah berlangsung secara bertahap.

Namun, apa yang kita dapat rasakan hari ini ? kita telah kehilangan para pejuang itu, kita telah sepi dari interupsi para pengawal, kini banten justru ramai dengan kompetisi karena semua berjibaku bermain diwilayah kekuasaan.

Jangan sampai akhirnya rakyat mayoritas malah menjadi penonton, tak berdaya dilenakan dengan berbagai jurus politisasi dan mobilisasi. Dan suatu saat setelah semuanya usai, rakyat kembali sendiri, sendiri mengubah nasibnya, sendiri menyampaikan aspirasinya. Ketika harga bahan pokok mahal dan biaya pendidikan tak terjangkau mereka sendiri menghadapinya. Bahkan ketika bencana terus menimpa mereka sendiri menanggungnya. Lalu kemana para pemimpin mereka ? semua tak berdaya, baligho dan spanduk justru lebih peduli menyapa mereka. Tapi, apa gunanya ? Selamat Hari Ulang Tahun Provinsi Banten, tak ada kata lagi selain pertanyaan, Kapan kami bisa sejahtera ? Tertanda Masyarakat Banten!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: